Showing posts with label Penyelesaian Siklus Akuntansi. Show all posts
Showing posts with label Penyelesaian Siklus Akuntansi. Show all posts

Monday, October 15, 2018

Penggunaan Neraca Lajur dan Pembahasannya

Penggunaan Neraca Lajur dan Pembahasannya

Akuntan seringkali menggunakan kertas kerja(work sheet) berupa neraca lajur untuk mengumpulkan dan meringkas data yang mereka butuhkan dalam rangka menyiapkan laporan keuangan, Kertas kerja ini berbentuk multi kolom, yang memuat kolom neraca saldo sebelum penyesuaian, kolom penyesuaian, kolom neraca saldo setelah penyesuaian, kolom laba rugi, dan kolom neraca.

Fungsi kertas kerja ini hanya sebagai alat bantu untuk mempermudah proses penyusunan laporan keuangan yang dilakukan secara manual. Kertas kerja juga sesungguhnya berguna sebagai alat bantu untuk memahami alur data akuntansi, mulai dari neraca saldo sebelum penyesuaian hingga menghasilkan laporan keuangan sebagai produk akhir dari siklus akuntansi. Sebagai alat bantu (pilihan), kertas kerja ini merupakan catatan akuntansi yang sifatnya tidak permanen oleh sebab itu tidak termasuk sebagai bagian dari catatan akuntansi formal lainnya, seperti jurnal dan buku besar yang memang dibutuhkan sebagai bagian dari sistem akuntansi. Sifatnya yang bukan merupakan bagian yang formal dari tahapan siklus akuntansi tampak dari bagan arus yang telah digambarkan di atas, dimana kertas kerja ini berada di luar alur tahapan siklus akuntansi.

Kertas kerja menjadi tidak diperlukan terutama bagi perusahaan yang sudah memiliki sistem komputerisasi akuntansi yang baik dan memadai. Kertas kerja ini juga tidak diperlukan lagi dalam perusahaan kecil yang dimana hanya memiliki sedikit transaksi, sedikit akun, dan sedikit penyesuaian. Pada perusahaan kecil, laporan keuangan dapat disiapkan langsung dari neraca saldo setelah penyesuaian tanpa menggunakan alat bantu neraca lajur sebagai kertas kerja.

Adapun urutan tahapan dalam menyiapkan kertas kerja adalah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan neraca saldo sebelum penyesuaian (un-adjusted trial balance) ke dalam kertas kerja. Hal ini dilakukan dengan cara memindahkan (to list) seluruh saldo akhir yang terdapat pada masing-masing buku besar akun (saldo akhir sebelum penyesuaian) ke dalam kolom neraca saldo sebelum penyesuaian yang ada dalam kertas kerja.
2.      Memasukkan data jurnal penyesuaian ke kolom penyesuaian yang ada dalam kertas kerja. Hal ini dilakukan dengan cara memindahkan besarnya tiap-tiap nilai penyesuaian akun yang ada dalam ayat jurnal penyesuaian ke dalam kolom penyesuaian sesuai dengan posisi nilai debet dan kredit masing-masing akun. Jika nama akun yang digunakan dalam ayat jurnal penyesuaian ternyata belum terdapat dalam neraca saldo (yang telah disiapkan pada tahapan pertama di atas), maka tambahan akun baru tersebut akan disisipkan tepat di bawah total jumlah neraca saldo.
3.      Memasukkan saldo yang telah disesuaikan ke dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian (adjusted trial balance) yang ada dalam kertas kerja. Kolom neraca saldo setelah penyesuaian ini merupakan hasil gabungan antara data yang terdapat dalam kolom neraca saldo sebelum penyesuaian dengan data yang ada dalam kolom penyesuaian.
4.      Memindahkan tiap saldo masing-masing akun yang ada dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian ke dalam kolom laporan keuangan. Hal ini dilakukan dengan cara memilah-milah secara tepat, akun mana yang akan ditransfer ke dalam kolom laba rugi dan juga akun mana yang akan ditransfer ke dalam kolom neraca. Sebagai contoh, saldo akun kas yang ada dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian akan ditransfer ke kolom neraca dengan saldo debet, saldo akun utang usaha yang ada dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian akan ditransfer ke kolom neraca dengan saldo kredit, saldo akun pendapatan yang ada dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian akan ditransfer ke kolom laba rugi dengan saldo kredit, saldo akun beban yang ada dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian akan ditransfer ke kolom laba rugi dengan saldo debet, dan seterusnya. Saldo at dalam kolom laba rugi dan kolom neraca iniya akan dipakai dalam menyusun laporan keuanakun yang terdapat dalam kolom laba rug lah yang nantinya akan dipakai dalam mergan.  
5.      Untuk masing-masing kolom (baik masing-masing kolom (baik kolom laba rugi maupun kolom neraca), hitunglah total saldo debet dan total saldo kredit dengan cara menjumlahkan seluruh saldo akun dari atas sampai ke bawah sesuai dengan saldo akun yang ada pada masing-masing kolom. Besarnya selisih antara total saldo debet dengan total saldo kredit untuk kolom laba rugi harus sama dengan besarnya selisih antara total saldo debet dengan total saldo kredit untuk kolom neraca, hanya saja posisi untuk masing-masing selisih tersebut akan saling berlawanan antara kolom laba rugi dengan kolom neraca. Artinya, jika posisi selisih antara total saldo debet dengan total saldo kredit untuk kolom laba rugi berada di sebelah debet, maka posisi selisih antara total saldo debet dengan total saldo kredit untuk kolom neraca akan berada di sebelah kredit, dengan besarnya selisih yang sama.

Sebagai contoh : untuk kolom/lajur laba rugi dengan total saldo debet Rp. 30.000.000,- dan total saldo kredit Rp. 40.000.000,akan memiliki posisi selisih di sebelah debet, yaitu sebesar Rp. 10.000.000,-. Sedangkan untuk kolom/lajur neraca dengan total saldo debet Rp. 85.000.000,- dan total saldo kredit Rp. 75.000.000,- akan memiliki posisi selisih di sebelah kredit, yaitu sebesar Rp. 10.000.000,- juga. Perhatikanlah bahwa besarnya selisih tersebut masing-masing memiliki nilai yang sama yaitu Rp. 10.000.000,- baik untuk selisih antara debet kredit pada kolom laba rugi maupun untuk selisih antara debet kredit pada kolom neraca, hanya saja posisi selisih tersebut masing-masing saling berlawanan. Besarnya laba bersih (net income) atau rugi bersih (net loss) ditentukan dengan cara membandingkan antara total saldo debet dengan total saldo kredit yang ada pada laba rugi. Jika total saldo kredit untuk kolom laba rugi melebihi total saldo debet untuk kolom laba rugi, maka akan menghasilkan laba bersih, dan sebaliknya jika total saldo debet untuk kolom laba rugi melebihi total saldo kredit untuk kolom laba rugi, maka akan menghasilkan rugi bersih.

Friday, September 21, 2018

Contoh Pembahasan Penyelesaian Siklus Akuntansi



Akuntansi untuk perusahaan jasa relatif lebih simpel dibanding perusahaan dagang. Hal ini disebabkan karena untuk perusahaan dagang, terdapat dua alternatif metode akuntansi yang diperkenankan oleh prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum dalam hal mencatat persediaan barang dagangannya yaitu metode perpetual dan metode periodik/fisik, belum lagi kerumitan ditambah dengan alternatif metode penilaian yang ada dalam menghitung besarnya harga pokok persediaan barang dagangan. Namun pada intinya, proses (alur) penyelesaian siklus akuntansi untuk perusahaan jasa dan perusahaan dagang adalah hampir sama.

Karena akuntansi untuk perusahaan dagang relatif lebih rumit dibanding perusahaan jasa, maka dalam buku ini, ilustrasi mengenai penyelesaian siklus akuntansi (dengan menggunakan alat bantu worksheet) akan langsung diberikan untuk perusahaan dagang, yang akan diuraikan nanti dalam postingan selanjutnya (akuntansi untuk perusahaan dagang).

Soal :
Felixia Beatrice Artistik merupakan sebuah perusahaan jasa bergerak dalam bidang pertamanan (landscaping). Penutupan dilakukan pada setiap tanggal 31 Desember. Perkiraan dalam buku besar perusahaan pada tanggal 30 November 2008 menunjukkan saldo sebagai berikut :


Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Desember 2009 yang belum dibukukan oleh perusahaan adalah sebagai berikut :

1 Desember
Dibeli dari PT. Imora sebuah kendaraan dan peralatan kantor, masing-masing senilai Rp. 36.000.000,- dan Rp 12.000.000,-. Dibayar tunai Rp. 38.000.000,- sedangkan sisanya akan dilunasi nanti di kemudian hari. 4 Desember Diterima tunai sebesar Rp. 17.500.000,- sebagai pem bayaran untuk pekerjaan merancang dan membangun sebuah taman.
5 Desember
Dibayar biaya iklan pada majalah bulanan Kartini untuk 6 kali pemasangan sebesar Rp. 5.400.000,- (catat dalam perkiraan nomor 108). Pemasangan iklan akan dilakukan pada setiap tanggal 5 yang terhitung mulai hari ini.
8 Desember
Dibeli tunai perlengkapan kantor seharga Rp. 3.850.000,
10 Desember
Diterima pelunasan dari debitur sebesar Rp. 25.000.000,
12 Desember
Dibayar beban pemeliharaan kendaraan operasionalperusahaan sebesar Rp. 6.500.000,
14 Desember
Dibayar upah tenaga kerja honorer sebesar Rp. 9.700.000,
17 Desember
Diambil uang tunai dari kas perusahaan sebesar Rp. 9.000.000,- untuk keperluan pribadi pemilik
20 Desember
Dibayar rekening listrik dan telpon bulan Desember 2008 sebesar Rp. 650.000,
22 Desember
Telah diselesaikan pembuatan dekorasi atas sebuah taman di Hotel Megah dengan total faktur sebesar Rp. 17.600.000,-. Dalam transaksi ini, telah diterima tunai Rp. 12.500.000,- sedangkan sisanya akan ditagih di kemudian hari.
24 Desember
Dibayar upah karyawan harian, gaji bulanan dan tunjangan hari Natal sebesar Rp. 18.300.000,
28 Desember
Dibayar utang usaha kepada kreditur sebesar Rp19.000.000,
31 Desember
Dibayar uang parkir, kebersihan, keamanan, sumbangan-sumbangan dan lain-lain sebesar Rp 2.600.000,

Diminta :
a.       Catatlah transaksi-transaksi di atas dalam bentuk jurnal umum!
b.       pindahkan data yang terdapat dalam jurnal umum ke dalam perkiraan-perkiraan yang bersangkutan di buku besar!
c.       susunlah neraca saldo per 31 Desember 2008 sebelum penyesuaian!
d.      buatlah ayat jurnal penyesuaian, apabila pada tanggal 31 Desember 2008 diperoleh data tambahan untuk penyesuaian sebagai berikut :
1). nilai perlengkapan kantor yang sudah terpakai sampai dengan tanggal 31
     Desember 2008 adalah sebesar Rp. 6.000.000
2). asuransi dibayar di muka merupakan pembayaran premi asuransi untuk jangka
      waktu 6 bulan yang terhitung mulaitanggal 1 Oktober 2008.
3). pemasangan iklan sampai dengan tanggal 31 Desember 2008 baru dilakukan
      sebanyak satu kali, yaitu tanggal 5 Desember
4). penyusutan tahunan atas aset tetap ditentukan sebesar 20 % dari harga
      perolehannya. Atas peralatan kantor dan kendaraan yang dibeli pada tanggal 1
      Desember 2008 juga belum dilakukan penyusutan.
5). bunga atas pinjaman bank selama 30 hari belum dibayar. Tingkat bung
      pinjaman adalah sebesar 18 % per tahun (1 tahun = 360 hari).
6). upah karyawan harian dibayar sekali seminggu pada setiap hari sabtu sore
      untuk 6 hari kerja (Senin sampai dengan Sabtu) sebesar Rp. 2.400.000,
       Tanggal 31 Desember 2008 jatuh pada hari Kamis.

e.       pindahkan data yang terdapat dalam jurnal penyesuaian ke dalam perkiraan-perkiraan yang bersangkutan di buku besar!
f.       susunlah neraca saldo per 31 Desember 2008 setelah penyesuaian!

Penyelesaian :












Thursday, September 20, 2018

Klasifikasi Neraca (Standar)



Laporan keuangan akan menjadi lebih berguna bagi manajemen, kreditur, dan investor ketika akun-akun yang ada dalam laporan diklasifikasikan secara tepat ke dalam masing-masing kelompok sesuai dengan karakteristiknya. Klasifikasi secara tepat terhadap akun-akun neraca akan berguna untuk memberikan gambaran yang sesungguhnya mengenai besarnya jumlah aset lancar, aset tetap, to aset, jumlah utang lancar, utang jangka panjang, total kewajiban, besarnya modal yang dimiliki perusahaan.

1.      Lebih lanjut, melalui klasifikasi ini pula para pengguna laporan neraca akan dapat:  memprediksi kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban yang akan segera jatuh tempo lewat aset lancar yang dimilikinya.
2.      memprediksi kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek lewat aset yang dapat dikonversi menjadi kas tanpa mengalami kesulitan.
3.      mempersiapkan kebutuhan dana jangka panjang untuk memenuhi kewajiban tidak lancar.
4.      memprediksi jumlah total klaim kreditur atas aset perusahaan.
5.       memprediksi jumlah total klaim pemilik dana atau investor atas aset perusahaan.
6.      memperoleh gambaran mengenai besarnya komposisi aset tetap terhadap total aset.
7.      memperoleh gambaran mengenai jumlah perbandingan antara total kewajiban dengan total aset.

Klasifikasi akun neraca yang standar terbagi menjadi : aset lancar, aset tetap, utang lancar, utang jangka panjang, dan modal.

Aset lancar terdiri dari kas dan sumber daya ekonomi lainnya yang diperkirakan akan dapat direalisasi menjadi kas (contohnya piutang) atau dapat dijual (contohnya persediaan barang dagangan) atau dapat dikonsumsi (contohnya perlengkapan, asuransi dibayar di muka, sewa dibayar di muka) dalam kurun waktu satu tahun periode akuntansi. Ingat kembali bahwa penyajian untuk akun aset lancar dalam neraca disusun berdasarkan urutan tingkat likuiditasnya. Kas lebih lancar dibanding piutang dan persediaan; piutang lebih lancar dibanding persediaan; dan seterusnya.

Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, aset tetap diklasifikasikan menjadi dua yaitu aset tetap berwujud dan aset tetap tidak berwujud. Pada prinsipnya, aset tetap adalah sumber daya ekonomi yang memiliki masa kegunaan lebih dari satu tahun periode akuntansi, yang dimiliki perusahaan dengan maksud untul digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan sehari-hari dan bukan untuk dijual, serta besar nilainya material yang tergantung pada kebijakan manajemen perusahaan masing-masing dalam hal kapitalisasi. Aset tetap akan disajikan dalam neraca sebesar harga perolehannya. Di samping itu, untuk aset tetap berwujud juga harus disajikan besarnya akumulasi penyusutan, yaitu yang merupakan total beban penyusutan mulai dari tahun pertama sejak aset tetap tersebut diperoleh hingga tahun pelaporan. Untuk akhir tahun pertama sejak tanggal perolehan, otomatis besarnya beban penyusutan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi akan sama dengan besarnya akumulasi penyusutan yang dilaporkan dalam neraca. Sedangkan besarnya akumulasi penyusutan sampai dengan akhir tahun ke dua yang akan dilaporkan dalam neraca adalah jumlah antara akumulasi penyusutan yang telah dilaporkan dalam laporan neraca akhir tahun pertama dengan beban penyusutan untuk tahun ke dua, dan seterusnya. Akumulasi penyusutan ini sifatnya sebagai akun pengurang (contra account) dari harga perolehan aset tetap, dimana akumulasi penyusutan memiliki saldo normal di sebelah kredit atau kebalikan dari saldo normal untuk harga perolehan aset tetap. Harga perolehan aset tetap dikurangi dengan akumulasi penyusutan akan diperoleh nilai buku (book value). Aset tetap berwujud akan disajikan dalam neraca berdasarkan urutan lamanya umur kegunaan aset tetap bersangkutan (tanah, bangunan, peralatan, dan seterusnya).

Utang lancar adalah kewajiban-kewajiban yang diperkirakan akan dibayar dengan menggunakan aset lancar yang ada atau dengan melalui pembentukan utang lancar lainnya. Utang lancar ini harus segera dilunasi dalam jangka waktu satu tahun. Utang lancar meliputi utang usaha, utang gaji dan upah, pinjaman bank yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun atau maksimum satu tahun, utang bunga, utang pajak, bagian utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun, dan utang lancar lainnya.

Sedangkan kewajiban-kewajiban yang diperkirakan akan dibayar setelah satu tahun diklasifikasikan sebagai utang jangka panjang. Utang dalam kategori ini meliputi utang obligasi (bonds payable), utang hipotik (mortgages payable), wesel bayar jangka panjang (long-term notes payable), pinjaman bank jangka panjang (long-term bank loans), dan utang jangka panjang lainnya.

Komponen modal yang terdapat dalam laporan neraca sangatlah beragam atau berbeda-beda tergantung pada bentuk karakteristik organisasi perusahaan. Untuk perusahaan perorangan (proprietorship), hanya ada satu akun modal saja yaitu akun yang mencerminkan modal dari si pemilik tunggal perusahaan. Sedangkan untuk perusahaan yang memiliki bentuk organisasi persekutuan (partnership), besarnya bagian kepemilikan dari masing-masing anggota sekutu akan tercermin lewat masing-masing akun modal, misalnya akun modal Tn. A, akun modal Tn. B, akun modal Tn. C dan seterusnya sesuai dengan berapa banyak anggota sekutu yang ada dalam perusahaan. Sedangkan untuk perseroan (corporation), ada dua sumber utama modal yaitu modal disetor (paid-in capital atau contributed capital) dan laba ditahan (ending retained earning). Modal yang disetor ini merupakan modal saham (capital stock). Period retained earning merupakan hasil pengurangan laba bersih (net income) periode berjalan dengan deviden (pembagian hasil keuntungan kepada investor), yang kemudian sisanya diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan. Saldo laba ditahan yang dilaporkan dalam neraca merupakan saldo akhir yang sifatnya akumulatif ("gulung-menggulung"), yaitu kumpulan dari besarnya saldo laba ditahan yang dihasilkan dalam satu periode ke periode berikutnya. Jadi,

Ending retained earning = beginning retained earning + period retained earning. Dimana, period retained earning = net income – dividend

Jurnal Pembalik dan Pembahasannya

Jurnal Pembalik dan Pembahasannya

Dalam akuntansi, pembuatan ayat jurnal pembalik (reversing entries) adalah sifatnya pilihan (optional). Ayat jurnal pembalik ini biasanya akan dibuat pada setiap awal periode akuntansi dengan cara membalik ayat jurnal penyesuaian yang telah dibuat pada akhir periode akuntansi sebelumnya. Ada 4 hal (item) yang perlu dibuatkan ayat jurnal pembalik, yaitu :
a.       Ayat jurnal penyesuaian atas beban yang masih harus dibayar/ beban akrual/utang akrual, seperti beban upah yang masih ng masih harus harus dibayar (utang upah) dan beban bunga yang masih ha dibayar (utang bunga).
b.      Ayat jurnal penyesuaian atas pendapatan yang mas batan yang masih harus diterima/pendapatan akrual/piutang akrual, seperti pendapatan bunga yang masih harus diterima (piutang bunga).
c.       Ayat jurnal penyesuaian atas biaya dibayar di muka yang mulamula dicatat langsung sebagai beban bukan sebagai aset/pre paid, seperti biaya sewa dibayar di muka (prepaid rent) yang mula-mula dicatat sebagai beban sewa (rent expense), biaya iklan dibayar di muka (prepaid advertising) yang mula-mula dicatat sebagai beban iklan (advertising expense), dan biaya asuransi dibayar di muka (prepaid insurance) yang mula-mula dicatat sebagai beban asuransi (insurance expense).
d.      Ayat jurnal penyesuaian atas pendapatan diterima di muka yang mula-mula dicatat langsung sebagai pendapatan bukan sebagai utang, seperti pendapatan sewa diterima di muka (unearned rent revenue) yang mula-mula dicatat sebagai pendapatan sewa (rent revenue),dan lain-lain. Ingat kembali bahwa unearned rent revenue merupakan komponen dari neraca yaitu sebagai utang, sedangkan rent revenue merupakan komponen dari laporan laba rugi yaitu sebagai pendapatan lain-lain (other income).

Jurnal untuk periode berikutnya, yang terkait dengan 4 item di atas, tentu saja akan dipengaruhi oleh ada tidaknya ayat jurnal pembalik yang dibuat pada awal periode tersebut.

Sebagai contoh untuk mengilustrasikan efek yang ditimbulkan dari perbedaan antara dibuatnya ayat jurnal pembalik dengan tidak dibuatnya ayat jurnal pembalik (karena optional tadi) adalah misalkan bahwa pada tanggal 1 September 2008 perusahaan memberikan pinjaman uang kepada debitur senilai Rp. 100 juta. Pinjaman ini berjangka waktu 6 bulan. Perusahaan akan menerima kembali nilai pokok pinjaman beserta bunganya pada saat pinjaman tersebut jatuh tempo, yaitu tepatnya pada tanggal 1 Maret 2009. Besarnya tingkat suku bunga pinjaman yang disepakati oleh kedua belah pihak adalah sebesar 9 % per tahun. Periode akuntansi perusahaan berakhir pada tangool 21 Desember 2008. Berdasarkan pencatatan secara accrual basis, bunga pinjaman selama 4 bulan (September, Oktober, ber, dan Desember) yang sudah berlangsung dalam tahun 2009 haruslah diakui sebagai pendapatan tahun 2008 dalam pembul kreditur, meskipun pembayarannya baru akan diterima nanti ad tanggal 1 Maret 2009.

Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut :
Piutang Bunga Rp. 3.000.000,
Pendapatan Bunga                              Rp. 3.000.000,
(4/12 x 9 % x Rp. 100 juta)

sedangkan ayat jurnal pembalik yang seandainya dibuat pada tanggal 1 Januari 2009 akan menjadi :
Pendapata Bunga                         Rp. 3.000.000,
Piutang Bunga                                    Rp. 3.000.000,

kemudian, ayat jurnal yang perlu dibuat pada tanggal 1 Maret 2009 adalah menjadi sebagai berikut: (di luar pokok pinjaman
Kas                                                 Rp. 4.500.000,
Pendapatan Bunga                              Rp. 4.500.000,
(6/12 x 9 % x Rp. 100 juta)

namun, jika seandainya ayat jurnal pembalik tidak ada maka ayat jurnal yang harus dibuat pada tanggal 1 Maret 2009 akan menjadi sebagai berikut: (di luar pokok pinjaman)
Kas Rp. 4.500.000,
Piutang Bunga                    Rp. 3.000.000,
Pendapatan Bunga                                     Rp.1.500.000,

Tanpa melihat apakah ayat jurnal pembalik dibuat atau tidak, point penting yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa bunga sebesar Rp. 3 juta haruslah diakui sebagai pendapatan tahun 2008 (untuk 4 bulan), sedangkan besarnya pendapatan bunga yang harus diakui dalam tahun 2009 hanyalah sebesar Rp. 1,5 juta (untuk 2 bulan).

Sebagai contoh lainnya untuk mengilustrasikan efek yang ditimbulkan dari ada tidaknya ayat jurnal pembalik adalah misalkan bahwa pada tanggal 1 September 2008, perusahaan memperoleh pinjaman uang dari Bank Mandiri (selaku kreditur) senilai Rp. 100 juta. Pinjaman ini berjangka waktu 6 bulan. Perusahaan diharuskan untuk mengembalikan nilai pokok pinjaman beserta bunganya pada saat pinjaman tersebut jatuh tempo, yaitu tepatnya pada tanggal 1 Maret 2009. Besarnya tingkat suku bunga pinjaman yang disepakati oleh kedua belah pihak adalah 9 % per tahun. Periode pembukuan perusahaan (selaku debitur) akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Berdasarkan pencatatan secara accrual basis, bunga pinjaman selama 4 bulan (September, Oktober, November, dan Desember) yang sudah terjadi di tahun 2008 ini haruslah diakui sebagai beban tahun 2008 oleh debitur, meskipun pembayarannya baru akan dilakukan pada tanggal 1 Maret 2009 nanti.

Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah :
Beban Bunga Rp. 3.000.000,
Utang Bunga                           Rp. 3.000.000,
(4/12 x 9 % x Rp. 100 juta)

sedangkan ayat jurnal pembalik yang seandainya dibuat pada tanggal 1 Januari 2009 akan menjadi :
Utang Bunga Rp. 3.000.000,
Beban Bunga                          Rp. 3.000.000,

kemudian, ayat jurnal yang perlu dibuat pada tanggal 1 Maret  2009 adalah menjadi sebagai berikut: (di luar pokok pinjaman)
Beban Bunga          Rp. 4.500.000,
Kas                                          Rp. 4.500.000,
(6/12 x 9 % x Rp. 100 juta)

namun, jika seandainya ayat jurnal pembalik tidak ada maka ayat jurnal yang harus dibuat pada tanggal 1 Maret 2009 akan men jadi sebagai berikut: (di luar pokok pinjaman)
Utang Bunga          Rp. 3.000.000 ,
Beban Bunga          Rp. 1.500.000,
Kas                                          Rp. 4.500.000,


Tanpa melihat apakah ayat jurnal pembalik dibuat atau tidak, point penting yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa bunga sebesar Rp. 3 juta haruslah diakui sebagai beban tahun 2008 (untuk 4 bulan), sedangkan besarnya beban bunga yang harus diakui dalam tahun 2009 hanyalah sebesar Rp. 1,5 juta (untuk 2 bulan).

Neraca Saldo Setelah Penutupan dan Pembahasannya


Prosedur akuntansi yang terakhir, setelah ayat jurnal peni dibuat dan diposting ke masing-masing buku besar akun terkait, ad lah menyiapkan neraca saldo setelah penutupan (post-closing trial balance). Sesuai dengan namanya, laporan ini hanyalah berisi sald. akhir dari masing-masing akun neraca (kas, piutang usaha, perlengkapan, utang usaha, dan seterusnya) yang akan dibawa sebagai saldo awal untuk periode akuntansi berikutnya. Jadi, dalam neraca saldo setelah penutupan ini sudah tidak ada lagi saldo akun prive dan sal. do akun-akun laporan laba rugi, karena memang telah ditutup lewat ayat jurnal penutup sehingga bersaldo nol.

Neraca saldo setelah penutupan ini sesungguhnya dapat digu nakan sebagai alat untuk membuktikan bahwa proses penjurnalan dan pemostingan ayat jurnal penutup telah dilakukan secara tepat dan lengkap. Neraca saldo setelah penutupan ini juga dibuat untuk membuktikan bahwa keseimbangan dalam persamaan akuntansi telah dipenuhi pada akhir periode akuntansi setelah melewati berbagai tahapan siklus akuntansi.

Jurnal Penutup dan Pembahasannya

Sebelum masuk pada pembahasan mengenai ayat jurnal penutup, perlu diingat kembali bahwa neraca sesungguhnya adalah sebuah laporan yang akan menggambarkan mengenai kondisi atau posisi keuangan perusahaan per tanggal tertentu (sampai dengan tanggal pelaporan), sedangkan laporan laba rugi adalah sebuah laporan yang mencerminkan kinerja (performance) manajemen dan profitabilitas perusahaan untuk satu periode waktu tertentu. Jadi, misalkan jika saldo kas yang dilaporkan dalam neraca per 31 Desember 2008 berjumlah Rp. 400.000.000,-, maka berarti jumlah saldo ini merupakan saldo kas akumulatif yang dihasilkan lewat transaksi-transaksi kas yang terjadi sampai dengan tanggal pelaporan yaitu per tanggal 31 Desember 2008. Sedangkan jika saldo pendapatan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 berjumlah Rp. 750.000.000,-, maka berarti jumlah saldo pendapatan ini merupakan hasil dari transaksi yang terjadi, yang hanya diperhitungkan untuk sepanjang satu tahun saja yaitu sepanjang tahun 2008.

Seluruh akun neraca dikatakan memiliki sifat yang permanen dan akumulatif ("gulung-menggulung"), dimana akun-akun neraca ini tidak akan ditutup pada setiap akhir periode akuntansi dan saldonya akan dibawa terus ke periode-periode akuntansi berikutnya. Sedangkan untuk akun prive dan seluruh akun yang ada dalam laporan laba rugi memiliki sifat yang sementara, dimana akun prive dan seluruh akun laba rugi ini nantinya akan ditutup pada setiap akhir periode akuntansi. Sehubungan dengan penutupan (membuat nihil atau membuat saldo akun menjadi nol) terhadap saldo akun-akun laporan laba rugi, lalu timbul pertanyaan: kalau begitu untuk apa laporan laba rugi dibuat, dan bagaimana dengan nilai saldo yang melekat pada setiap akun laporan laba rugi tersebut? Sekali lagi, bahwa laporan laba rugi tetap perlu/harus dibuat untuk memperoleh gambaran mengenai kinerja manajemen perusahaan dan untuk mene tahui berapa besarnya tingkat keuntungan/kerugian yang dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan sepanjang satu tahun tertentu. Nilai saldo yang melekat pada akun prive dan setiap akun laporan laba rugi, pada akhirnya akan ditransfer atau ditutup ke akun neraca yaitu akun modal.

Ingat kembali bahwa pendapatan memiliki sifat menambah modal, sedangkan beban memiliki sifat mengurangi modal. Pendapatan dan modal sama-sama memiliki saldo normal di sebelah kredit sedangkan beban memiliki saldo normal yang berlawanan dengan saldo normal untuk pendapatan dan modal. Jika pendapatan lebih besar dari beban, maka akan diperoleh laba bersih. Laba bersih ini berarti sifatnya akan menambah modal, dan sebaliknya jika terjadi rugi bersih (beban lebih besar dari pendapatan) maka sifatnya akan mengurangi modal. Prive memiliki saldo normal di sebelah debet dan memiliki sifat mengurangi modal.

Jurnal penutup dilakukan dengan cara : (1) mentransfer akun pendapatan yang memiliki saldo normal kredit ke sebelah debet, dan kemudian mengkredit akun ikhtisar laba rugi (income summary); (2) mentransfer akun beban yang memiliki saldo normal debet ke sebelah kredit, dan kemudian mendebet akun ikhtisar laba rugi; (3) mentransfer jumlah laba bersih/rugi bersih ke akun modal, dengan ketentuan bahwa jika laba bersih maka akun modal akan di kredit(debetnya adalah akun ikhtisar laba rugi) dan sebaliknya jika rugi bersih maka akun modal akan di debet (kreditnya adalah akun ikhtisar laba rugi); dan (4) mentransfer akun prive yang memiliki saldo normal debet ke sebelah kredit, dan kemudian mendebet akun modal.

Sebagai kesimpulan, bahwa pada setiap akhir periode akunta setelah laporan keuangan disusun, bagian akuntansi perusan perlu menyiapkan ayat jurnal penutup (closing entries). Hal ini lakukan dengan cara mentransfer seluruh akun yang sifatnya setara (temporary / nominal accounts) ke akun yang sifatnya permanen (permanent / real accounts), yaitu akun modal.

Berikut ini adalah contoh ayat jurnal penutup yang disiapkan pada akhir periode akuntansi :



Perlu diperhatikan di sini secara cermat bahwa besarnya saldo laba bersih (Rp. 1.600.000,) ditutup dan ditransfer ke perkiraan modal. Saldo laba bersih ini tidak lain adalah selisih antara total saldo akun pendapatan dengan total saldo akun beban (Rp. 7.900.000 - Rp. 6.300.000). Akun ikhtisar laba rugi ini sesungguhnya merupakan akun sementara dari akun modal.

Siklus Akuntansi (Accounting Cycle)

Siklus Akuntansi  (Accounting Cycle)

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa seluruh transaksi bisnis yang terjadi dalam perusahaan mula-mula akan dianalisis (dalam rangka mengidentifikasi akun) dan dicatat ke dalam jurnal. Seluruh data transaksi ini yang telah tercatat dalam jurnal lalu akan dipindah-bukukan (diposting) ke dalam buku besar sesuai dengan klasifikasi masing-masing akun terkait. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan neraca saldo, menganalisis data penyesuaian, menyiapkan ayat jurnal penyesuaian, neraca saldo setelah penyesuaian, laporan keuangan, ayat jurnal penutup, neraca saldo setelah penutupan, dan ayat jurnal pembalik. Proses akuntansi yang diawali dengan menganalisis dan menjurnal transaksi, dan yang diakhiri dengan membuat laporan dinamakan sebagai siklus akuntansi (accounting cycle). Produk akhir dari siklus akuntansi ini adalah laporan keuangan.

Pada pastingan  ini akan dibahas secara lengkap mengenai tahapan-tahapan dalam proses penyelesaian siklus akuntansi, yang belum dijelaskan sepenuhnya pada bagian sebelumnya. Secara lebih rinci, tahapan-tahapan dalam siklus akuntansi dapat diurutkan sebagai berikut:
1.         Mula-mula dokumen pendukung transaksi dianalisis dan informasi yang terkandung dalam dokumen tersebut dicatat dalam jurnal
2.         Lalu data akuntansi yang ada dalam jurnal diposting ke buku besar.
3.         Seluruh saldo akhir yang terdapat pada masing-masing buku besar akun "didaftar" (dipindahkan) ke neraca saldo untuk membuktikan kecocokan antara keseluruhan nilai akun yang bersaldo normal debet dengan keseluruhan nilai akun yang bersaldo normal kredit.
4.         Menganalisis data penyesuaian dan membuat ayat jurnal penyesuaian.
5.         Memposting data jurnal penyesuaian ke masing-masing buku besar akun yang terkait.
6.         Dengan menggunakan pilihan (optional) bantuan neraca lajur sebagai kertas kerja (work sheet), neraca saldo setelah penyesuaian (adjusted trial balance) dan laporan keuangan disiapkan.
7.         Membuat ayat jurnal penutup (closing entries).  
8.         Memposting data jurnal penutup ke masing-masing buku besar akun yang terkait
9.         Menyiapkan neraca saldo setelah penutupan (post- closing trial balance).
10.     Membuat ayat jurnal pembalik (reversing entries).

Untuk perusahaan yang telah memiliki sistem komputerisasi akuntansi yaitu sebuah perangkat lunak (software) yang memuat program pemrosesan data dan pelaporan akuntansi, akan secara otomatis memposting jurnal ke buku besar, hingga menghasilkan laporan keuangan dan berbagai laporan lainnya :