Showing posts with label Tahap Pencatatan. Show all posts
Showing posts with label Tahap Pencatatan. Show all posts

Monday, September 10, 2018

Cara Menyusun Jurnal Penyesuaian dan Formatnya

Cara Menyusun Jurnal Penyesuaian dan Formatnya


Setelah ayat jurnal (journal entry) diposting ke buku besar (ledger), lalu disiapkanlah neraca saldo sebelum penyesuaian (un-adjusted trial balance). Siklus akuntansi belum selesai sampai di sini. Masih ada beberapa tahapan proses lagi yang harus dilalui hingga akhirnya diterbitkan seperangkat laporan keuangan (financial statement) yang bermanfaat bagi para users. Tahapan proses tersebut diantaranya adalah proses penyesuaian, proses penyajian neraca saldo setelah penyesuaian (adjusted trial balance) dan seterusnya.

Pada akhir periode akuntansi, banyak saldo akun dalam buku besar yang dapat segera dilaporkan dalam laporan keuangan tanpa mengalami perubahan. Akan tetapi, ada juga beberapa akun yang perlu disesuaikan. Penyesuaian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk memperbaharui (updating) data laporan keuangan agar sesuai dengan konsep akrual dan konsep penandingan yang berlaku dalam akuntansi. Sebagai contoh adalah bahwa besarnya saldo perlengkapan (supplies) yang mencerminkan : harga pokok perlengkapan pada awal periode ditambah dengan harga pokok perlengkapan yang diperoleh/dibeli sepanjang periode, haruslah disesuaikan dengan besarnya jumlah perlengkapan yang telah dipergunakan sepanjang periode untuk mengetahui saldo akhir perlengkapan yang masih tersisa (yang belum digunakan). Contoh lainnya adalah penyesuaian untuk akun beban gaji dan akun utang gaji yang timbul atas jumlah gaji yang belum dibayarkan tetapi bebannya telah terjadi (incurred); akun piutang bunga dan akun pendapatan bunga yang timbul atas jumlah bunga yang belum diterima uangnya tetapi pendapatannya telah terjadi; akun beban dibayar dimuka; dan lain-lain.

Ayat jurnal yang membuat saldo akun menjadi up to date pada akhir periode akuntansi dinamakan sebagai adjusting journal entry. Setiap ayat jurnal penyesuaian sekurang-kurangnya akan mempengaruhi satu akun laporan laba rugi dan satu akun neraca. Jadi, dalam ayat jurnal penyesuaian selalu melibatkan akun pendapatan atau beban dan akun aset atau akun kewajiban. Apa yang akan terdi jika seandainya akuntan lupa membuat ayat jurnal penyesuaian terhadap akun-akun yang sesungguhnya memerlukan penyesuaian? jawabannya adalah tentu saja bahwa akun-akun tersebut akan menjadi tidak up to date, dalam arti akun-akun tersebut ada yang kebesaran jumlahnya (overstated) dan ada juga yang kekecilan (understated), sehingga terjadilah yang namanya salah saji (misstatement) dalam laporan keuangan. Pada prinsipnya ada empat item yang memerlukan penyesuaian, yakni:

1.      beban yang masih harus dibayar/beban akrual/utang akrual (accrued expenses or accrued liabilities),
2.      pendapatan yang masih harus diterima/pendapatan akrual/piutang akrual (accrued revenues or accrued assets),
3.      beban yang ditangguhkan atau biaya dibayar di muka (deferred expenses or prepaid expenses), dan
4.      pendapatan yang ditangguhkan atau pendapatan diterima di muka (deferred revenues or unearned revenues).

v  Accrued Expenses / Accrued Liabilities
Sepanjang periode, beban-beban tertentu mungkin telah terjadi tetapi pembayarannya belum dilakukan sampai pada periode berikutnya. Pada akhir periode akuntansi adalah perlu untuk menentukan dan mencatat beban-beban yang telah terjadi ini meskipun belum dibayarkan. Dalam pencatatan beban/utang akrual ini, akun beban di debet dan akun utang di kredit.
Contoh ayat jurnal penyesuain untuk mencatat accrued expense or accrued liability adalah sebagai berikut:

Beban Upah                       xxx
       Utang Upah                          xxx  
     Beban Bunga                      xxx
Utang Bunga                                    xxx

Misalkan :
1.        Perusahaan membayar upah karyawan pada setiap hari Sabtu, di mana pembayaran upah terakhir untuk tahun 2008 ini jatuh pada tanggal 27 Desember 2008 (hari Sabtu). Periode akuntansi (pembukuan) perusahaan berakhir tanggal 31 Desember 2008 Perusahaan menetapkan bahwa jumlah hari kerja dalam seminggu adalah sebanyak 6 hari, yaitu mulai dari hari Senin hingga Sabtu. Besarnya total upah karyawan yang dibayarkan untuk setiap 6 hari kerja adalah Rp. 20 juta.

Berdasarkan pencatatan secara accrual basis, upah karyawan selama 3 hari yaitu untuk tanggal 29 Desember 2008 (Senin), 30 Desember 2008 (Selasa), dan tanggal 31 Desember 2008 (Rabu) haruslah diakui sebagai bagian dari beban upah karyawan tahun 2008, meskipun pembayarannya baru akan dilakukan lagi pada hari Sabtu pertama di tahun 2009 nanti. Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah:

Beban Upah                Rp. 10.000.000,.
Utang Upah                                           Rp. 10.000.000
(3/6 x Rp. 20 juta)

2.      Pada tanggal 1 September 2008, perusahaan memperoleh pinjaman uang dari Bank senilai Rp. 100 juta. Pinjaman ini berjangka waktu 6 bulan. Perusahaan diharuskan untuk mengembalikan nilai pokok pinjaman beserta bunganya pada saat pinjaman tersebut jatuh tempo, yaitu tepatnya pada tanggal 1 Maret 2009 Besarnya tingkat suku bunga pinjaman yang disepakati oleh kedua belah pihak adalah 9 % per tahun. Periode akuntansi (pembukuan) perusahaan berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Berdasarkan pencatatan secara accrual basis, bunga pinjaman selama 4 bulan (September, Oktober, November, dan Desember) yang sudah terjadi (berlangsung) di tahun 2008 haruslah diakui sebagai beban tahun 2008, meskipun pembayaran nya baru akan dilakukan pada tanggal 1 Maret 2009 nanti. Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah :

Beban Bunga               Rp. 3.000.000,
       Utang Bunga                           Rp. 3.000.000,
(4/12 x 9 % x Rp. 100 juta)

v  Accrued Revenues / Accrued Assets
Sepanjang periode, pendapatan tertentu mungkin telah terjadi tetapi penagihan kas belum dilakukan sampai pada periode berikutnya. Pada akhir periode akuntansi adalah perlu untuk menentukan dan mencatat pendapatan yang telah terjadi ini meskipun belum diterima uangnya. Dalam pencatatan atas pendapatan akrual ini, akun aset di debet dan akun pendapatan di kredit.
Contoh ayat jurnal penyesuain untuk mencatat accrued revenue or accrued asset adalah sebagai berikut:

Piutang Bunga                    xxx
Pendapatan Bunga                  xxx

Misalkan:
Pada tanggal 1 September 2008, perusahaan memberikan pinjaman uang kepada debitur senilai Rp. 100 juta. Pinjaman ini berjangka waktu 6 bulan. Perusahaan akan menerima kembali nilai pokok pinjaman beserta bunganya pada saat pinjaman tersebut jatuh tempo, yaitu tepatnya pada tanggal 1 Maret 2009. Besarnya tingkat suku bunga pinjaman yang disepakati oleh kedua belah pihak adalah 9 % per tahun. Periode akuntansi (pembukuan) perusahaan berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Berdasarkan pencatatan secara accrual basis, bunga pinjaman selama 4 bulan (September, Oktober, November, dan Desember) yang sudah terjadi (berlangsung) di tahun 2008 haruslah diakui sebagai pendapatan tahun 2008, meskipun pembayarannya baru akan diterima pada tanggal 1 Maret 2009 nanti. Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah

Piutang Bunga                    Rp. 3.000.000,
  Pendapatan Bunga                                          Rp. 3.000.000,
(4/12 x 9 % x Rp. 100 juta)

v  Deferred Expenses / Prepaid Expenses
Sepanjang periode, pengeluaran-pengeluaran tertentu (yang telah dibayarkan) dicatat pada pembukuan namun atas barang atau jasa yang belum digunakan. Pada akhir periode akuntansi adalah perlu untuk menentukan secara tepat mana bagian dari pengeluaran-pengeluaran tersebut yang sudah dipakai/dimanfaatkan selama periode berjalan (yang telah menjadi beban) dan mana bagian dari pengeluaran-pengeluaran tersebut yang akan digunakan/ditangguhkan untuk periode berikutnya (deferred expenses). Untuk bagian dari pengeluaran-pengeluaran yang baru akan digunakan dalam periode berikutnya memerlukan pengakuan sebagai aset (karena belum terpakai).

Metode penyesuaian untuk prepaid expenses tergantung pada bagaimana pengeluaran-pengeluaran tadi awalnya di catat di dalam akun. Pengeluaran-pengeluaran mungkin awalnya telah dicatat sebesar debet ke akun aset terlebih dahulu atau bisa juga langsung ke akun beban. Kedua metode ini jika diterapkan secara konsisten akan menghasilkan nilai akhir yang sama, jadi kedua metode tersebut sama-sama benar/diperkenankan. Perusahaan akan memilih salah satu dari kedua metode yang ada dan menerapkannya pada masingmasing periode.

·          Mula-mula di debet ke akun aset
Jika akun aset mula-mula di debet dalam ayat jurnal umum, maka ayat jurnal penyesuaian (pada akhir periode akuntansi) men syaratkan bahwa aku pengeluaran yang telah nya yaitu akun aset akan bahwa akun beban akan di debet atas bagian dari jumlah uaran yang telah dipakai selama periode berjalan dan lawansitu akun aset akan di kredit sebesar jumlah prepaid yang telah ang karena pemakaian. Akun aset yang masih tersisa dengan debet menunjukkan bagian dari jumlah pengeluaran di perio jalan yang akan dapat dipakai nanti pada periode mendatang. Sebagai contoh misalkan bahwa pada tanggal 1 Januari 2008, peruahaan membayar di muka premi asuransi sebesar $ 120 untuk masa pertanggungan 3 tahun. Jika pencatatan atas pembayaran premi asuransi tersebut mula-mula diakui sebagai aset terlebih dahulu, dan periode akuntansi (pembukuan) perusahaan diasumsikan berakhir tanggal 31 Desember 2008, maka :
 Ayat jurnal umum yang dibuat pada tanggal 1 Januari 2008 (pada saat pembayaran di muka) adalah:

Asuransi Dibayar di Muka      $ 120
Kas                                          $ 120

Sedangkan, ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah:

Beban Asuransi                                   $ 40
      Asuransi Dibayar di Muka                  $ 40
($ 120 x 1/3)

Premi asuransi yang dibayarkan di muka sebesar $ 120 diharapkan dapat bermanfaat untuk jangka waktu 3 tahun, yaitu terhitung mulai awal tahun 2008 hingga akhir tahun 2010 mendatang. Sepanjang tahun 2008 (satu tahun penuh), manfaat dari pembayaran premi asuransi tersebut sudah dipergunakan/sudah berlangsung, sehingga sepertiga dari $ 120 haruslah diakui sebagai beban untuk tahun 2008. Sedangkan sisanya, dua pertiga dari $ 120, yaitu $ 80 masih merupakan aset (asuransi dibayar di muka) dengan saldo de bet, yang diharapkan bisa memberikan manfaat dalam tahun 2009 dan tahun 2010 mendatang.

·          Mula-mula di debet ke akun beban
Jika akun beban mula-mula di debet dalam ayat jurnal umum. maka ayat jurnal penyesuaian (pada akhir periode akuntansi) meng. haruskan bahwa akun aset akan di debet sebesar bagian dari jumlah pengeluaran yang belum terpakai dalam periode berjalan (yang ditangguhkan atau baru akan digunakan pada masa yang akan datang) dan akun beban akan di kredit. Akun beban lalu akan tersisa dengan saldo debet yang menggambarkan atau menunjukkan bagian dari jumlah pengeluaran yang telah dipakai/dimanfaatkan selama periode berjalan. Sebagai contoh : idem dengan di atas, hanya saja pencatatan atas pembayaran premi asuransi tersebut mula-mula diakui langsung sebagai beban.
Ayat jurnal umum yang dibuat pada tanggal 1 Januari 2008 (pada saat pembayaran di muka)
adalah
Beban Asuransi           $ 120
  Kas                              $ 120

Sedangkan, ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah

Asuransi Dibayar di Muka                  $ 80
       Beban Asuransi                                   $ 80
($ 120 x 2/3)

Perlu diperhatikan di sini bahwa kedua metode akan menghasilkan nilai akhir yang sama. Pelajarilah dengan cermat, bahwa dengan menggunakan salah satu dari kedua metode tersebut akan sama-sama diperoleh besarnya beban asuransi yang akan dilaporkan dalam laporan laba rugi (income statement) untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 sebesar $ 40, sedangkan untuk saldo akun aset yaitu akun asuransi dibayar di muka yang akan tampak di neraca (balanced sheet) per 31 Desember 2008 adalah sebesar $ 80.

v  Deferred Revenues / Unearned Revenues
Pembayaran-pembayaran mungkin akan diterima dari pelanggan sebelum barang dikirim atau sebelum jasa diberikan. Jumlah yang diterima di muka akan dicatat dengan mendebet akun aset (kas) dan kreditnya bisa dengan menggunakan dua akun, yaitu langsung diakui sebagai akun pendapatan atau bisa juga terlebih dahulu diakui sebagai akun utang (pendapatan diterima di muka). Pada akhir periode akuntansi adalah perlu untuk menentukan mana bagian dari jumlah penerimaan tersebut yang benar-benar telah menjadi pendapatan untuk periode berjalan dan mana bagian dari jumlah penerimaan tersebut (yang diterima di periode berjalan) yang akan ditangguhkan sebagai pendapatan untuk periode mendatang (deferred revenues). Metode penyesuaian untuk pendapatan yang ditangguhkan tergantung pada apakah penerimaan pendapatan atas barang yang belum dikirim atau atas jasa yang belum diberikan pada awalnya dicatat sebesar kredit ke akun pendapatan atau akun utang.

Contoh umum dari pendapatan yang diterima di muka adalah: penerimaan uang langganan majalah/surat kabar dari pelanggan, penerimaan di muka atas uang sewa dari si penyewa, penerimaan uang dari hasil penjualan tiket, penerimaan uang kuliah dari mahasiswa, dan lain sebagainya. Sesungguhnya, inti daripada unearned revenues adalah bahwa uang telah diterima di muka tetapi barang atau jasa belum diberikan. Majalah akan segera dikirim jika uang telah diterima terlebih dahulu dari si pelanggan, si penyewa rumah baru bisa menggunakan fasilitas rumah sewaannya setelah memba" terlebih dahulu uang sewa kepada pemilik, uang hasil penjualan et pertunjukan telah diterima terlebih dahulu sebelum pertunjukkan berlangsung, dan seterusnya.

·           Mula-mula di kredit ke akun pendapatan
Jika akun pendapatan mula-mula di kredit dalam ayat jurnal umum, maka ayat jurnal penyesuaian (pada akhir periode akuntansi mengharuskan bahwa akun utang akan di kredit sebesar bagian d. jumlah penerimaan yang ditangguhkan sebagai pendapatan untuk periode mendatang dan akun pendapatan akan di debet. Akun pend patan lalu akan tersisa dengan saldo kredit yang menggambarkan atau menunjukkan bagian dari jumlah penerimaan yang telah men. jadi pendapatan selama periode berjalan. Sebagai contoh misalkan bahwa pada tanggal 1 Januari 2008, perusahaan menerima di muka pembayaran uang sewa ruangan yang tidak terpakai dari si penyewa sebesar $ 120 untuk masa sewa selama 3 tahun. Jika pencatatan atas penerimaan uang sewa di muka tersebut mula-mula langsung diakui sebagai pendapatan, dan periode akuntansi (pembukuan) perusahaan diasumsikan berakhir tanggal 31 Desember 2008, maka: Ayat jurnal
umum yang dibuat pada tanggal 1 Januari 2008 (pada saat menerima pembayaran di muka) adalah:
Kas                              $ 120
Pendapatan Sewa                    $ 120

Sedangkan, ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah

Pendapatan Sewa                                $ 80
  Pendapatan Sewa Diterima di Muka              $ 80
($ 120 x 2/3)

·           Mula-mula di kredit ke akun utang (pendapatam diterima di muka)
Jika akun utang mula-mula di kredit dalam ayat jurnal umum, maka ayat jurnal penyesuaian (pada akhir periode akuntansi) mensyaratkan bahwa akun pendapatan akan dikredit sebesar bagian dari  jumlah penerimaan yang telah menjadi pendapatan periode berjalan dan lawannya yaitu akun utang akn didebet. Akun utang yang masih tersisa dengan saldo kredit menunjukkan bagian dari jumlah penerian di periode berjalan yang akan ditangguhkan sebagai pendapatan  ntuk periode mendatang.
Sebagai contoh : idem dengan di atas, hanya saja pencatatan atas penerimaan uang sewa di muka tersebut mula-mula diakui sebagai utang terlebih dahulu.
 Ayat jurnal umum yang dibuat pada tanggal 1 Januari 2008 (pada saat menerima pembayaran di muka) adalah:

Kas                                                      $ 120
          Pendapatan Sewa Diterima di Muka              $ 120

Sedangkan, ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat pada tanggal 31 Desember 2008 adalah:
Pendapatan

Sewa Diterima di Muka              $ 40
  Pendapatan Sewa                                                        $ 40
($ 120 x 1/3)

Perlu diperhatikan di sini bahwa kedua metode tetap akan menghasilkan nilai akhir yang sama. Untuk dapat memahaminya dengan baik dari penggunaan kedua metode di atas, pelajarilah secara cermat.


Cara Menyusun Neraca Saldo Dalam Akuntansi

Cara Menyusun Neraca Saldo Dalam Akuntansi

Neraca saldo (trial balance) diperlukan untuk memastikan bahwa tidak adanya kesalahan di dalam memposting jumlah debet/kredit dari jurnal ke buku besar. Kecocokan antara jumlah debet dengan jumlah kredit ini harus dibuktikan pada setiap akhir periode laporan akuntansi. Langkah awal dalam menyiapkan neraca saldo adalah menentukan saldo akhir per periode laporan akuntansi untuk setiap akun (lihat saldo akhir yang dicetak tebal pada buku besar di atas). Seluruh saldo akhir tersebut (untuk tiap-tiap akun) akan dipindahkan ke neraca saldo.

Perlu ditekankan di sini, bahwa neraca saldo dibuat hanya untuk membuktikan bahwa antara jumlah debet dengan jumlah kredit telah sama (equality). Neraca saldo tidak menjamin dalam hal kelengkapan dan keakuratan data transaksi. Jika antara jumlah debet dengan jumlah kredit dalam neraca saldo tidak sama, maka berarti terdapat kesalahan posting (karena dalam double-entry system, seharusnya antara sisi debet dengan sisi kredit seimbang). Sebaliknya jika antara jumlah debet dengan jumlah kredit dalam neraca saldo sama, maka hal ini belum tentu (tidak menjamin) bahwa semua transaksi telan dicatat secara benar dalam jurnal. Antara jumlah debet dengan jumlah kredit dalam neraca saldo akan tetap sama, meskipun :
·          terdapat kesalahan identifikasi akun dalam pembuatan ayat jurnal; misalnya sebuah peralatan yang dibeli secara tunai dicatat dalam jurnal sebagai penambah utang. Dalam hal ini, meskipun akun yang digunakan salah (mengkredit akun utang, seharusnya mengkredit akun kas) tetapi antara sisi debet dengan sisi kredit akan tetap seimbang dalam jumlah yang sama.
·          terdapat transaksi bisnis yang tidak dijurnal (terlewatkan).
·         terdapat transaksi bisnis yang dijurnal secara ganda (double).

Ilustrasi :

Dengan menggunakan saldo akhir dari masing-masing akun yang ada pada buku besar KAP Drs. Thomas Nelson di atas, berikut ini adalah tampilan neraca saldo yang dibuat:


Saturday, September 8, 2018

Buku Besar Dalam Akuntansi dan Pembahasannya

Buku Besar Dalam Akuntansi dan Pembahasannya
Setelah transaksi dianalisis dan dicatat ke dalam jurnal, langkah selanjutnya adalah mem-posting (memindah-bukukan) setiap saldo akun yang terdapat pada jurnal ke dalam buku besar untuk masing masing akun. Intinya adalah bahwa setiap saldo akun yang masih "tercerai berai” dalam jurnal akan diakumulasikan ke dalam buku besar sesuai masing-masing akun. Nantinya, buku besar untuk masing-masing akun ini akan memperlihatkan secara terperinci mengenai setiap perubahan (mutasi debet dan mutasi kredit) yang ditimbulkan dari seluruh transaksi yang terjadi selama periode akuntansi Dengan kata lain, buku besar untuk masing-masing akun merupakan rincian akumulasi saldo akun terkait yang terdapat dalam jurnal. Pemahaman yang mendalam mengenai saldo normal dan makna debet kredit akun sangatlah dibutuhkan dalam proses penyusunan buku besar. Buku besar dibuat dengan urutan akun seperti yang tercantum pada bagan perkiraan (chart of accounts), yang dimulai dengan akun neraca (kas, piutang usaha, dan seterusnya).

Sebagai contoh : buku besar kas akan memuat secara terperinci saldo awal, mutasi debet, mutasi kredit, dan saldo akhir. Mutasi debet yang terdapat dalam buku besar kas merupakan rincian pemindahbukuan dari seluruh transaksi penerimaan kas yang telah di catat dalam jurnal, demikian juga mutasi kredit yang terdapat dalam buku besar kas merupakan rincian pemindah-bukuan dari seluruh transaksi pengeluaran kas yang telah di catat dalam jurnal.

Buku besar (ledger) dibedakan menjadi dua, yaitu buku besar umum (general ledger) dan buku besar embantu (subsidiary ledger). Untuk perusahaan yang sudah computerized system, proses posting dari jurnal ke buku besar tidak lagi dilakukan secara manual tetapi akan langsung terposting secara otomatis lewat program komputer. Buku besar umum selalu dibuat atas seluruh akun laporan keuangan.

Tidak semua akun memerlukan buku besar pembantu. Perusahaan biasanya akan membuat buku besar pembantu hanya khusus untuk akun piutang dagang dan utang dagang. Buku besar pembantu diperlukan untuk merinci saldo yang terdapat dalam buku besar umum. Bayangkan saja dalam sebuah perusahaan dagang yang dimana transaksi penjualan barang dagangan (secara kredit) dilakukan ke banyak pelanggan, demikian juga perusahaan melakukan transaksi pembelian barang dagangan (secara kredit) dari banyak supplier. Dengan adanya buku besar pembantu yang mencatat tagihan ke masing-masing pelanggan dan yang mencatat utang ke masing-masing supplier, akan lebih memudahkan bagi perusahaan untuk mengontrol saldo keseluruhan piutang dagang dan utang dagang. Total jumlah saldo dari keseluruhan masing-masing buku besar pembantu harus sama dengan jumlah saldo yang tertera dalam buku besar umum.

        

Ilustrasi:
Dengan enggunakan data transaksi Kantor Akuntan Publik Drs. Thomas Nelson pada postingan seelumnya (klik di sini), berikut adalah buku besar umum yang dibuat:



Friday, September 7, 2018

Analisis Transaksi dan Jurnal dalam Akuntansi


Analisis Transaksi dan Jurnal

Dalam akuntansi, proses pencatatan selalu di mulai dengan menganalisis setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan. Analisis ini mengandung pengertian bahwa seorang akuntan harus dapat menentukan pengaruh dari masing-masing transaksi terhadap akun. Pada tahapan ini, akuntan sudah selayaknya memiliki pemahaman yang baik mengenai definisi/pengertian dari aset, kewajiban, ekuitas, prive, pendapatan, dan beban yang semuanya itu merupakan akun utama laporan keuangan. Setelah transaksi dianalisis, langkah selanjutnya adalah mencatat kandungan informasi yang ada pada setiap transaksi ke dalam jurnal (tentu saja setelah kandungan informasi tadi diterjemahkan ke dalam akun-akun).Transaksi dicatat ke dalam jurnal secara kronologis, yaitu berdasarkan urutan waktu terjadinya transaksi. Jurnal akan memperlihatkan pengaruh setiap transaksi terhadap akun dalam bentuk debet kredit. Lewat prosedur debet kredit inilah kita dapat melihat kenaikan ataupun penurunan atas saldo masing-masing akun terkait

Ilustrasi :
Berikut ini adalah serangkaian transaksi yang terjadi pada kantor Akuntan Publik Drs. Thomas Nelson selama bulan pertama ope. rasionalnya, yaitu bulan Februari 2008:

1 Febr
Tn. Thomas menyetor uang kas ke dalam perusahaan sebagai modal awal sebesar Rp. 30.000.000,

2 Febr
Dibayar sewa kantor untuk bulan Februari sebesar Rp 7.000.000,

2 Febr
Dibeli peralatan kantor berupa komputer seharga Rp. 14.000.000,-. Dalam hal ini, perusahaan membayar tunai Rp. 10.000.000,- dan sisanya akan dibayar di kemudian hari.

3 Febr
Dibeli tunai perabot kantor berupa meja dan kursi seharga Rp. 3.000.000,

4 Febr
Dibeli tunai perlengkapan kantor berupa kertas print dan alat tulis kantor seharga Rp. 1.400.000,

11 Febr
Diterima kas dari klien, PT. Langga Internusa, atas jasa kon sultasi sistem akuntansi klien sebesar Rp. 1.850.000,

13 Febr
Dibayar sebagian utang atas transaksi tanggal 2 Februari yang lalu, yaitu sebesar Rp. 1.500.000,

16 Febr
Diterima kas dari klien, PT. Wahana Mandiri, atas jasa penyusunan laporan keuangan tahun 2007 yang lalu sebesar Rp. 2.000.000,- sedangkan sisanya sebesar Rp. 1.500.000,baru akan dilunasi oleh klien dalam jangka waktu dua minggu kemudian.

19 Febr
Dibeli tambahan perlengkapan kantor berupa kertas print secara kredit sebesar Rp. 400.000,

25 Febr
Dibayar gaji karyawan sebesar Rp. 2.000.000,

27 Febr 
Dibayar utang atas transaksi tanggal 19 Februari yang lalu.

28 Febr
Dibayar beban utilitas berupa pemakaian listrik dan telepon sebesar Rp. 250.000,


Jurnal Transaksi di atas adalah sebagi berikut:


Tanggal Nama Akun COA Dr Kr
01-Feb Kas 1.1 30.000.000
     Modal Thomas 3.1 30.000.000
02-Feb Beban Sewa Kantor 5.3 7.000.000
     Kas 1.1 7.000.000
02-Feb Peralatan Kantor 1.7 14.000.000
     Kas 1.1 10.000.000
     Utang 2.1 4.000.000
03-Feb Perabotan Kantor 1.8 3.000.000
     Kas 1.1 3.000.000
04-Feb Perlengkapan Kantor 1.4 1.400.000
     Kas 1.1 1.400.000
11-Feb Kas 1.1 1.850.000
     Pendapatan Usaha 4.1 1.850.000
13-Feb Utang 2.1 1.500.000
     Kas 1.1 1.500.000
16-Feb Kas 1.1 2.000.000
Piutang Usaha 1.2 1.600.000
     Pendapatan Usaha 4.1 3.500.000
19-Feb Perlengkapan Kantor 1.4 400.000
     Utang 2.1 400.000
25-Feb Beban Gaji 5.1 2.000.000
     Kas 1.1 2.000.000
27-Feb Utang 2.1 400.000
     Kas 1.1 400.000
28-Feb Beban Utilitas 5.4 250.000
     Kas 1.1 250.000



Penjelasan transaksi :

1 Februari:
kas perusahaan bertambah sebagai akibat adanya transaksi penyetoran uang tunai dari pemilik (Tn. Thomas Nelson) ke dalam perusahaan; uang kas ini akan dijadikan sebagai modal awal untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan nantinya. Ingat kembali bahwa kas (aset lancar) memiliki saldo normal di sebelah debet, sehingga kas akan bertambah di sebelah debet.

2 Februari:
uang kas perusahaan menjadi berkurang sebagai akibat adanya transaksi pembayaran beban sewa kantor. Kas berkurang di sebelah kredit, sedangkan beban memiliki saldo normal di sebelah debet. Kenapa beban memiliki saldo normal di sebelah debet ? Ingat kembali bahwa beban sifatnya mengurangi modal dan modal akan berkurang di sebelah debet. Modal memiliki saldo normal di sebelah kredit.

2 Februari:
peralatan kantor menjadi bertambah karena dibeli. Penambahan aset tetap ini akan dicatat dalam jurnal dengan menggunakan akun peralatan kantor di sebelah debet sebesar Rp. 14.000.000,-. Dari total pembelian peralatan kantor ini, Rp. 10.000.000,- nya langsung dibayar tunai sehingga mengurangi akun kas di sebelah kredit, sedangkan sisanya yang sebesar Rp. 4.000.000,merupakan utang. Utang bertambah di sebelah kredit sesuai dengan saldo normalnya.

3 Februari:
perabot kantor menjadi bertambah karena dibeli. Penambahan aset tetap ini akan dicatat dalam jurnal dengan menggunakan akun perabot kantor di sebelah debet. Perabot kantor tersebut dibeli secara tunai, sehingga uang kas perusahaan menjadi berkurang. Pengurangan kas ini akan dicatat di sebelah kredit dalam jurnal.

4 Februari:
perlengkapan kantor menjadi bertambah karena dibeli. Penambahan aset lancar ini akan dicatat dalam jurnal dengan menggunakan akun perlengkapan kantor di sebelah debet. Perlengkapan kantor ini dibeli secara tunai, sehingga uang kas perusahaan menjadi berkurang. Pengurangan kas ini akan dicatat di sebelah kredit dalam jurnal.

11 Februari:
kas perusahaan menjadi bertambah di sebelah debetdalam jurnal karena adanya penerimaan uang kas dari klien atas jasa konsultasi yang telah diberikannya. Karena perusahaan telah memberikan jasanya kepada klien, maka pada saat itu juga perusahaan akan mengakui pendapatan usaha. Pendapatan memiliki saldo normal di sebelah kredit. Ingat kembali bahwa pendapatan sifatnya menambah modal. Modal akan bertambah di sebelah kredit.

13 Februari:
kas menjadi berkurang di sebelah kredit karena adanya transaksi pembayaran atas sebagian utang pembelian peralatan kantor pada tanggal 2 Februari yang lalu. Sebagian utang yang dibayar ini akan berkurang di sebelah debet.

16 Februari:
nilai jasa yang telah diberikan kepada klien adalah sebesar Rp. 3.500.000,-. Nilai inilah yang harus diakui sebagai pendapatan usaha di sebelah kredit dalam jurnal. Jadi, Rp. 3.500.000,- ini akan langsung diakui sepenuhnya sebagai pendapatan meskipun uang kas yang baru diterima hanyalah sebagian yaitu Rp. 2.000.000,Intinya adalah bahwa pendapatan akan langsung diakui begitu perusahaan telah memberikan jasanya kepada klien, tidak peduli apakah kas sudah diterima seluruhnya, diterima sebagian, atau bahkan sama sekali belum diterima pembayarannya dari klien. Dalam akuntansi, inilah yang dinamakan sebagai dasar pencatatan akry. al, yang akan dibahas nanti secara lebih rinci dala bab 3. Agar supaya sisi debet dengan sisi kredit dalam jurnal menjadi seimbang (double entry system), akun piutang usaha di debet sebesar Rp. 1.500.000,- yang menggambarkan hak perusahaan untuk menagihnya kepada klien. Piutang usaha merupakan aset lancar yang memiliki saldo normal di sebelah debet.

19 Februari:
perlengkapan kantor menjadi bertambah karena dibeli. Penambahan aset lancar ini akan dicatat dalam jurnal dengan menggunakan akun perlengkapan kantor di sebelah debet. Perlengkapan kantor ini dibeli secara kredit, sehingga uang kas perusahaan tidaklah terpengaruh (tidak berkurang). Pembelian perlengkapan kantor secara kredit ini tentu saja akan menambah besarnya saldo utang. Penambahan utang akan dicatat di sebelah kredit dalam jurnal.

25 Februari:
sama seperti transaksi pada tanggal 2 Februari yang lalu. Uang kas perusahaan menjadi berkurang sebagai akibat adanya transaksi pembayaran gaji karyawan. Kas berkurang di sebelah kredit, sedangkan beban memiliki saldo normal di sebelah debet.

27 Februari:
sama seperti transaksi pada tanggal 13 Februari yang lalu. Kas menjadi berkurang di sebelah kredit karena adanya transaksi pembayaran atas seluruh utang pembelian perlengkapan kantor pada tanggal 19 Februari yang lalu. Seluruh utang yang dibayar ini akan berkurang di sebelah debet, sehingga saldo utang yang khusus berasal dari transaksi pada tanggal 19 Februari yang lalu sekarang menjadi nol.

28 Februari:
sama seperti transaksi pada tanggal 2 dan 25 Februariyang lalu. Uang kas perusahaan menjadi berkurang sebagai akibat adanya transaksi pembayaran beban utilitas. Kas berkurang di sebelah kredit, sedangkan beban memiliki saldo normal di sebelah debet.

Jurnal dibedakan menjadi dua, yaitu jurnal umum (general journal) dan jurnal khusus (special journal). Jurnal umum dibuat atas transaksi yang tidak dicatat dalam jurnal khusus. Contoh transaksi yang akan di catat dalam jurnal umum adalah transaksi retur pembelian, retur penjualan, serta transaksi pembelian peralatan dan perlengkapan kantor secara kredit. Jurnal koreksi (correcting entries), jurnal penyesuaian (adjusting entries), dan jurnal penutup (closing entries) tergolong ke dalam jurnal umum.

Jurnal khusus dibagi menjadi:
·        Jurnal penjualan (sales journal), digunakan untuk mencatat seluruh transaksi penjualan barang dagangan ke pelanggan secara kredit. Untuk transaksi penjualan barang dagangan yang dilakukan secara tunai akan dicatat dalam jurnal penerimaan kas.
·         Jurnal pembelian (purchases journal), digunakan untuk mencatat seluruh transaksi pembelian barang dagangan dari supplier secara kredit. Untuk transaksi pembelian barang dagangan yang dilakukan secara tunai akan dicatat dalam jurnal pembayaran kas.
·         Jurnal penerimaan kas (cash receipts journal), digunakan untuk mencatat seluruh transaksi penerimaan kas. Penerimaan kas langsung dari pelanggan dalam transaksi penjualan barang dagangan secara tunai dan penerimaan kas dari hasil penagihan piutang akan dicatat dalam buku jurnal ini. Contoh lainnya adalah penerimaan kas dari hasil pinjaman serta penjualan tunai peralatan dan perabot kantor yang tidak terpakai.
·         Jurnal pembayaran kas (cash payments journal), digunakan untuk mencatat seluruh transaksi pengeluaran kas. Pembayaran kas langsung ke supplier dalam transaksi pembelian barang dagangan secara tunai, pengeluaran kas untuk pelunasan utang, serta pembelian peralatan dan perlengkapan kantor secara tunai akan dicatat dalam buku jurnal ini.


Wednesday, August 15, 2018

Saldo Akun Normal dan Pembahasannya

Saldo Akun Normal

Dengan memahami persamaan dasar akuntansi lihat postingan sebelumnya (klik di sini!), kita dapat menyimpulkan secara cermat bahwa setiap transaksi akan mempegaruhi paling tidak dua akun, bahkan  bisa lebih dari dua akun. Dalam akuntansi pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan atas dasar double-entry system, dimana salah satu dan dua akun tersebut akan dicata sebelah debet dan akun satunya lagi dicatat di sebelah kredit. Dengan kata lain, antara jumlah sisi debet dengan sisi kredit dalam sebuah jurnal haruslah seimbang. Sebelum kita mencatat transaksi ke dalam jurnal kita perlu memahami terlebih dahulu saldo normal dan makna debet kredit akun.
Aset memiliki saldo normal di sebelah Debet.  Jika terdapat transaksi  yang sifatnya menambah aset perusahaan, maka transaksi tersebut harus dicatat dengan mendebet aset yang bersangkutan. Sebaliknya jika efek dari suatu transaksi akan mengurangi aset, maka aset yang berkurang tersebut harus dicatat di sebelah kredit.



Ekuitas memiliki saldo normal di sebelah kredit. Ekuitas akan bertambah di sebelah kredit, dan sebaliknya akan berkurang di sebelah debet. Prive memiliki saldo normal di sebelah debet, dimana prive sifatanya akan mengurangi ekuitas. Pendapatan memiliki saldo normal di sebelah kredit, sehingga pendapatan sifatnya menambah ekuitas. Pendapatan akan bertambah di sebelah kredit, dan sebaliknya akan berkurang disebelah debet. Beban memiliki saldo normal di debet, dimana sifatnya akan mengurangi ekuitas. Beban akan bertambah di sebelah debet dan sebalikny akan berkurang di sebelah kredit. Perhatikan bahwa saldo normal pendapatan berbanding lurus dengan saldo normal ekuitas, sedangkan saldo normal prive dan beban berbanding erbalik dengan saldo normal ekuitas.


Monday, August 13, 2018

Kegunaan dan Karakteristik Akun

Kegunaan dan Karakteristik Akun
   
Sebuah sistem akuntansi dirancanguntuk menunjukkan kenaikan atau penurunan saldo masing-masing komponen laporan keuangan. Kenaikan dan penurunan saldo ini haruslah dicatat secara terperinci dan terpisah untuk setiap komponen laporan keuangan. Catatan akuntansi yang terperinci dan terpisah inilah yang dinamakan sebagai akaun (perkiraan). Jadi, akun adalah catatan akuntansi mengenai kenaikan dan penurunan salado dari masing-masing aset, kewajiban, dan ekuitas. Sebagai contoh lihatlah laporan pada postingan sebelumnya, klik di sini!. Sebelum sampai pada penyusunan laporan keuangan, Micro Service haruslah mempunyai catatan akuntansi yang terpisah untuk kas, piutang usaha, perlengkapan, utang usaha, pendapatan jasa, beban gaji, beban sewa, beban iklan, dan seterusnya.
      Daftar (list) yang membuat mengenai keseluruhan kode (nomor) dan nama akun, dinamakan sebagai bagan perkiraan (chart of accounts) . Kode dan nama akun yang terdapat dalam daftar merupakan kode dan nama akun yang akan digunakan perusahaan untuk mencatat dan mengklarifikasikan setiap transaksi bisnis (peristiwa ekonomi) yang terjadi. Sesungguhnya akun identik dengan komponn laporan keuangan, contohnya adalah akun kas, akun piutang usaha, dan seterusnya.

Contoh Chart of Accounts (COA)


1. Asset

    1.1 Kas
    1.2 Piutang Usaha
    1.4 Perlengkapan kantor
    1.5 Asuransi dibayar di muka
    1.7 Peralatan kantor
    1.8 Perabot Kantor
 
 2. Utang
     2.1  Utang
     2.3  Sewa diterima di muka

3. Ekuitas Pemilik
    3.1 Modal
    3.2 Prive

4. Pendapatan
    4.1 Pendapatan Usaha
    4.2 Pendapatan Sewa
    4.3 Pendapatan Bunga

5. Beban
    5.1 Beban gaji
    5.2 Beban Iklan
    5.3 Beban sewa kantor
    5.4 Beban Utilitas
    5.5 Beban Rupa-Rupa

     Bentuk baku (standarisasi) dalam penyusunan chart of account dan yang lelah diterapkan di kebanyakan perusahaan adalah bahwa pengelompokan kode (nomor) 1 selalu dimulai dari akun-akun aset,  laIu diikuti dengan akun akun dari kelompok utang, ekuitas, pendapatan, dan beban.
     Untuk aset yang tergolong lancar, urutan penyusunannya/penempatannya di dalam COA haruslah berdasarkan urutan tingkat likuiditas. Kas merupakan aset yang paling likuid (lancar) lalu diikuti dengan piutang usaha dan seterusnya. Dalam kesemua praktek akuntansi, kas sebagai aset yang paling lancar ini seringkali atau merupakan objek yang paling “digemari” untuk dicuri, diselewengkan, atau disalahgunakan oleh oknum karyawan tertentu sehingga memerlukan penerapan pengendalian internal yang baik (memadai).
     Sedangkan untuk aset tetap, penyusunannya selalu dimulai dari aset tetap berwujud yang memilih umur ekonomi (masa manfaat yang paling lama). Oleh sebab itu, tidaklah heran apabila tanah ditempatkan terlebih dahulu sebelum aset tetap berwujud lainnya (bangunan, kendaraan bermotor, peralatan, dan sebagainya). Penyusunan untuk utang dimulal dari utang jangki pendek yang sifatnya paling lancar, yang biasanya dimulai dengan utang usaha, dan seterusnya.
     Akun beban rupa-rupa dibuat untuk menampung seluruh pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya relatifkecil dan jarang terjadi, sehingga tidak perlu dibuatkan akun khusus untuk mencatat pengeluaran-pengeluaran tersebut. Akun beban rupa-rupa ini haruslah ditempatkan paling akhir dalam daftar akun.
     Satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam proses penyusum COA adalah penerapan flexible numbering system (sistem penomoran yang fleksibel) di mana sebuah kode dan nama akun yamg baru akan dapat ditambah (disisipkan) tanpa mengubah urutan kode akun lainnya yang telah ada. Dalam contoh bagan perkiraan sebelumnya perhatikanlah dengan seksama urutan nomor/kode yang sengaja dilewatkan (dikosongkan), yaitu dari kode 1.2 untuk akun piutang usaha lalu kode 1.4 untuk akun perlengkapan kantor dan seterusnya. Hal ini tujuannya tidak lain adalah kalau nantinya ternyata terdapat penambahan akun baru maka penambahan atau penempatan akun baru ini haruslah tetap memenuhi persyaratan urutan tingkat likuiditas (untuk kelompok aset lancar) dan seterusnya, Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Jadi kalau misalnya ternyata terdapat akun yang sifatnya lebih lancar dibanding akun perlengkapan  kantor, misalnya adalah piutang wesel (notes receivable), maka akun yang baru muncul ini akan bisa langsung disisipkan tepat di atas akun perlengkapan kantor yaitu dengan nomor kode 1.3 tanpa harus merombak seluruh kode akun yang selama ini telah digunakan. Demikian juga halnya dengan penambahan akun baru untuk tanah dan bangunan, yang di mana dapat langsung disisipkan diantara kode 1.5 dan 1.7.
     Bentuk  format yang paling sederhana  untuk menunjukan kenaikan atau penurunan salado masing-masing komponen  adalah dengan menggunakan model “T Account”.  Dinamakan T Account karena memang bentuk formatnya seperti T. Namun bentuk format yang paling umum digunakan dalam keseharian praktek akuntansi adalah model buku besar yang akan diajelaskan nanti pada postingan selanjutnya.